Chapter 1 : Bocah Berponi itu bernama Dinnar

11 Mar

          Halimun di pagi hari  dan udara yang dingin merasuk ke dalam sumsum tulang rupanya tidak menyurutkan semangat para orang tua untuk mengantarkan anak-anaknya untuk mendapatkan bangku terdepan di hari pertama tahun ajaran baru pada waktu itu, yang kemudian hari baru aku pahami kala itu kami tepat memasuki kurikulum terbaru yakni kurikulum 1994 sebagai pengganti kurikulum sebelumnya yang dikenal dengan sebutan CBSA.

         Suasana riuh di sekolah dasar yang pada saat itu merupakan sekolah favorit dan termasuk SD IPPOR seakan ikut menyemangati hari pertama sekolah, padahal letaknya tepat di depan pasar dan bersebelahan dengan tempat pembuangan sementara sampah bagi seantero desa kami. Dengan penuh suka cita kami pun berlenggak lenggok menggandeng tangan orang tua kami sambil menggendong tas dan berseragam merah putih, warna senada dengan warna bendera kebanggan Indonesia yang berkibar di tihang bendera di tengah lapang sekolah. Ruang kelas 1 belum juga dibuka tapi teras kelas sudah penuh dipadati orang tua dan para siswa baru termasuk aku. Masih teringat jelas aku menggendong tas berwarna pink karakter tokoh Candy dan berbando warna merah bermotif bunga dipercantik dengan sepatu “emen” berwarna hitam yang kala itu sedang ngetrend.

        Aku yang sejak umur dua tahun sudah tinggal dengan nenek di desa itu dan terpisah dengan mama,  tidak nampak seperti anak-anak lain kebanyakan yang kulihat. Aku lebih mandiri dan tidak terlalu kolokkan walaupun datang bersama mama yang sengaja bolos kuliah demi mengantarkan anaknya masuk sekolah dasar. Sambil menunggu kelas dibuka, kuperhatikan sekeliling, beragam pemandangan, ada anak yang terus menerus menangis dan memeluk erat ibunya yang kemudian aku ketahui namanya lussy. Ada juga yang terus menerus mengelap ingus dari hidungnya yang kemudian aku ketahui namanya Ksatriadan di ujung teras ada seorang anak yang sebelumnya menjadi teman di TK,  namanya Nastiti, kami pun lekas bertegur sapa.

         Sementara aku asik memerhatikan satu per satu setiap siswa baru, aku melewatkan seseorang yang tepat berada di depan aku dan Mama, seorang Bocah laki-laki berponi dengan mimik wajah ketus dan sudah bisa ditebak kalau bocah ini  pendiam dan sangat misterius. Asik memandangi bocah itu, tanpa sadar dia pun memandangiku yang sedang melihat ke arahnya. Dengan polos sambil mengupil aku memberikan senyum manisku dan spontan menyapanya dengan kata “Hey”. Sebetulnya bukan hanya Bocah itu yang kuperhatikan, namun seorang ibu yang menggandeng tangan sang bocah, ibu berjilbab nan cantik, pemandangan yang jarang kala itu, maklum pada saat itu hijab belum ngetrend, aneh padahal kita berdiri di Negara muslim. Beragam pemandangan dari setiap anak kala itu yang kemudian beberapa diantara mereka menjadi sahabat terdekat. Pemandangan menarik, ada semangat bercampur gelisah, takut dan gugup, maklumlah itu kala pertama kami memasuki sekolah baru. Bagi kami yang sempat masuk taman kanak-kanak mungkin tidak terlalu terkejut namun kebanyakan pada saat itu mereka tidak mengenyam taman kanak-kanak terlebih dahulu jadi mungkin agak sedikit gugup.

        Tepat pukul 06.00 ruang kelas 1 dibuka oleh seorang penjaga sekolah bernama Pak Maman, diikuti oleh Ibu Guru karismatik bernama Ibu Ririn yang dengan ramah dan hangat menyambut kami.

“Assalamualaikum anak-anak, selamat datang di kelas 1 SDN 3 Suka Senang.

“waalaikumsalaam ibu guru …” sahut kami dengan riang.

Seolah tak sabar para orang tua tidak terlalu lama beramah tamah dengan Ibu Ririn dan lekas berebut masuk kelas dan yah sudah diduga Mamaku berhasil mendapatkan tempat duduk paling depan. Aku duduk bersama Karin yang katanya anak dari salah satu duru di SD kami.

“Ayo, kenalan dulu!” kata Ibu Karin.

“Hai, namaku Hanna, Hanna Fauziah, kamu siapa?” kataku pada Karin.

“Namaku Karina Sabatini, boleh aku duduk dengan kamu?” Tanya Karin.

“Tentu saja!” jawabku dengan senang hati.

Sejak perkenalan itu, kami menjadi seorang sahabat, bermain dan belajar bersama. Di samping tempat duduk kami, ada Nastiti dan Lussy, tentu saja kami pun menjadi sahabat dekat.Dan tepat di belakang tempat duduk kami, duduk seorang bocah berponi yang selalu dipanggil Aa oleh ibunya, belakangan ku ketahui dari absen namanya bukan Aa tapi Dinnar. Di sebelah Dinnar duduk pula bocah imut-imut bernama Kris. Walaupun tempat dudukku tepat di depan bangku mereka tapi hanya dengan Kris aku bisa bertegur sapa, bocah berponi itu selalu memasang wajah ketus jadi selalu kuurungkan niat untu menyapanya.

Hari pertama dilalui dengan agak sedikit kaku, walaupun beberapa diantara teman sekelas sudah aku  kenal sebelumnya di TK tapi kebanyakan kami baru pertama kali bertemu di sini, ya di kelas 1 SDN Suka Senang.Hari kedua suasana mulai mencair, aku mulai bisa berlarian kesana-kemari dengan riang.Sementara suasana semakin riang, ada pemadangan lain yang berbeda, aku memandangi Bocah pendiam itu yang katanya bernama Dinnar. Dinnar selalu diam, sesekali bersenda gurau dan itu pun hanya dengan teman sebangkunya, Kris. Alasan bangku kami yang yang berdekatan maka kami sering bertatap muka walaupun tidak pernah bertegur sapa. Suatu hari pada saat mengerjakan soal Matematika, bocah itu tiba-tiba tanpa diduga sebelumnya meminjam penghapus tanpa mengatakan sesuatu, cukup dengan mengambil penghapus dan kita cuma saling pandang, sangat menyebalkan.

“Heyyyy! Itu penghapus aku tauuuu! Bilang dulu kek, jangan main ambil ajah” kataku pada dia.

“Iya, aku pinjem ya” jawab dia dengan nada yang sangat super rendah.

Dinnar terlihat sangat gugup sekali.

Karin dan Kris hanya bisa tertawa melihat kami berdua.

Hari demi-hari kami lalui di kelas 1, begitu banyak teman baru, pelajaran baru dan tentu saja jajanan baru. Semua sangat menyenangkan.

Begitu banyak keceriaan, tapi terkadang aku penasaran dengan bocah berponi itu, apakah dia merasakan keceriaan yang sama. Adahal yang menarik dari dirinya, tanpa  tanpa sadar aku selalu memperhatikan karakter sekelilingku.

            Suatu hari, pada saat jam istirahat, aku bergegas memakai sepatu untuk pergi membeli jajanan di pinggir jalan sekolah, suasana di teras kelas agak sepi dan tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara laki-laki.

“Han, bekal kamu berapa sehari?”.

Aku pun melihat sekeliling dan ternyata Dinnar bertanya padaku. Hal yang sangat ajaib bagiku.

“Yah, kenapa? “ Aku mencoba menanggapi dia.

“Iyaa, kamu sehari bekalnya berapa?”. Tanya Dinnar.

“Ohhhh, aku? Hihihi bekal aku Rp. 500,00” jawabku dengan girang sambil berlari ke arah tempat jajanan.

Itu kali pertama dia menyapaku, dan kali pertama juga kami beriteraksi. Pengalaman sekolah yang sangat menyenangkan, bertemu dengan kenalan dan sahabat baru, Ibu Guru baru, dan tentu saja bocah berponi yang pendiam dan misterius karena lain dari yang lain.  Hingga kapan pun akan selalu terkenang, bocah berponi itu bernama Dinnar.

***

4 Tanggapan to “Chapter 1 : Bocah Berponi itu bernama Dinnar”

  1. Deden Hf April 6, 2013 pada 4:35 pm #

    Hehe, menarik Bu Des. bisaan bu des nyeritanya..🙂

    • Desita Hanafiah April 20, 2013 pada 3:12 am #

      🙂 hatur nuhun Pak Den🙂 iseng-iseng aja mengisi waktu

  2. enoksuryati April 11, 2013 pada 10:45 am #

    jika bisa waktu diputar kembali,ingin rasanya menyapa “hai..cantik siapa namamu?”
    berlembar kenangan kusingkap tapi tak kutemukan seraut wajah yang dihiasi mata tajam nan cantik itu…rasanya saat itu terlalu sibuk dan khawatir dengan si matahari cintaku :=(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: