Guru Honorer ≠ Guru Horor-er

25 Sep

Cita-cita saya sederhana yaitu cukup menjadi seorang guru. Banyak dari para sahabat saya sempat mencibir tentang keinginan saya ini, ketika memasuki dunia perkuliahan saya memutuskan untuk masuk pendidikan keguruan sedikit berbeda dengan sahabat-sahabat yang lain. Beberapa dari mereka bahkan berkali-kali  menanyakan hal yang sama : “Kenapa mau jadi guru?” dan berkali-kali juga saya jawab dengan sederhana : ” saya ingin melakukan  investasi abadi”.

Lulus menjadi seorang sarjana pendidikan dan menjadi seorang guru adalah hal yang paling membanggakan dalam hidup saya🙂.

Namun terkadang ada hal-hal yang menjadi sangat sensitif yakni ketika ada beberapa orang memberikan pernyataan maupun pertanyaan yang seolah-olah memandang sebelah mata profesi guru berstatus honorer yang saya tekuni ini. Mereka seolah berpikir kalau Guru yang bisa dibilang hebat adalah guru berstatus pe-en.

Memang tidak memungkiri dalam tujuan hidup saya pun saya ingin menjadi pe-en tapi hal tersebut bukanlah tujuan utama, saya takut, takut tidak dapat mengemban amanah negara yaitu, menunaikan janji kemerdekaan: mendidik anak bangsa.

Kelak jika Allah mengijinkan saya menjadi seorang guru pe-en, mudah-mudahan saya dapat memelihara antusiasme ini.

Entah apa penyebabnya, saya menganalisis hal tersebut bisa terjadi karena paradigma yang tumbuh di kalangan masyarakat tentang guru honorer ini begitu menyedihkan dengan upah di bawah upar seorang buruh😦

Padahal kalau kalau ditinjau di lapangan, dapat kita lihat perbandingan kinerja antara guru Honorer dan guru pe-en sangat jauh sekali. Tentunya rata-rata kinerja guru honorer dapat dikatakan lebih baik dibanding guru pe-en. Keadaan  ini juga saya rasakan di sekolah tempat saya mengajar, beberapa guru pe-en memiliki kinerja yang sangat jauh dari predikat mereka sebagai guru bersertifikat yang konon katanya guru yang paling baik mengajar. Di lapangan mereka cenderung mengajar seenaknya berprinsip “datang telat pulang cepat” bahkan untuk tugas-tugas struktural kepala sekolah lebih mempercayai kami sang honorer sebagai pengemban tugas. Entah apa penyebabnya, mungkin karena faktor usia, ah… tapi gak tua-tua amat juga🙂

Kalau melihat tua atau muda, dua hal tersebut tidaklah harus menjadi penyebab kemunduran kinerja guru. Untuk dapat memiliki kinerja yang bagus, guru haruslah terus memperjuangkannya karena jika kinerja guru bagus maka sikap dan motivasi belajar siswa juga akan meningkat, begitu juga sebaliknya.

Hal ini menjadi sebuah perenungan bagi saya, terkadang saya berpikir kok bisa ya, beliau-beliau ini bekerja dengan etos kerja yang buruk dan tanggung jawab terhadap anak pun seolah diindahkan, hal ini tidak sebanding dengan imbalan yang pemerintah berikan. Apa karena alasan ini orang-orang berbondong-bondong mengikuti tes untuk menjadi pe-en? Tentu tidak pada awalnya, heuheu.

Bukan maksud untuk menyudutkan sebagian pihak, saya hanya meninjau dari realitas dan tentunya tidak semua guru pe-en yang tercatat mempunyai kinerja buruk, yang saya tulis hanyalah yang terjadi di lingkungan tempat saya mengajar🙂

Saya memang masih muda :p, saya sedang berada pada usia yang katanya masih penuh dengan idealisme dan semangat juang yang tinggi. Semoga usia dan status tidak mengikis antusiasme saya ini, mudah-mudahan dapat tetap menunaikan semangat juang ini bagi mereka yang ingin belajar😉

Saya harus berusaha mengikis paradigma orang lain mengenai Status Honorer yang terkesan horor🙂

Bukan tua atau muda buka pula status yang mempengaruhi kinerja seorang guru, jauh dari hal tersebut ada nilai mulia dari akhir perjuangan seorang guru yang sejatinya dapat memupuk kinerja guru.

9 Tanggapan to “Guru Honorer ≠ Guru Horor-er”

  1. hahn September 25, 2012 pada 4:49 pm #

    mumpung masih muda, wujudkan idealisme mu, anak muda!
    tunaikan cita-citamu, mendidik generasi muda penerus bangsa😀

  2. Eka Oktober 5, 2012 pada 5:29 am #

    Tetap semangat! Tetap lakukan yang terbaik!

  3. Pak Guru Oktober 15, 2012 pada 5:02 pm #

    tak jarang pada akhirnya bukan umur yang mengikis idealisme, namun keluarga kecil kita…

    • Desita Hanafiah Oktober 17, 2012 pada 2:28 am #

      Baik bapak dapat dipahami🙂 , mari kita berjuang bersama mendidik anak-anak kita

  4. rizalean Oktober 20, 2012 pada 1:33 pm #

    guru pe-en, honorer (not hororer ya:) adalah bagian dari sistem pendidikan indonesia, yang sayangnya, di level SMP-SMA, udah nggak kupercaya lagi. bocoran soal, beli NEM, jalur belakang, jatah kepala sekolah… siapa yg bisa menyangkal?

    hidup kadang tak adil. guru honorer berkinerja bagus dihargai jauh dibawah guru pe-en berkinerja buruk. Gusti Allah ora sare, orang jawa bilang. someday pengabdianmu akan berbuah manis. keep dreaming, hoping, praying and do your best.

    aku pun udah setua ini baru mau mulai bermimpi menjadi guru suatu saat kelak. gurunya para mahasiswa…🙂

  5. damin Oktober 23, 2012 pada 6:22 am #

    terus semangat dan niat jadi seorang guru 🙂

  6. Opick Amikom Oktober 30, 2012 pada 4:18 am #

    Artikel yang bagus.. kasihan guru honorer. sama kayak istri saya.. hehehe

    Maaf nitip lapak.. kunjungin yach..

    Butuh pemadam murah kunjungi http://www.alatpemadamapilombok.com 6Kg Rp. 500ribuan..
    Gratis Kirim ke Bali, Lombok, Jakarta, Tangerang, Bekasi, Depok.

    Kami juga terima COD (Cas On Delevery) untuk daerah gratis ongkos kirim..

    Hub kami di 081303700701 terim akasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: