Mengenal Prosodi

8 Apr

Semenjak kejadian Gempa dan Tsunami beberapa pekan yang lalu  di Jepang menyusul meledaknya nuklir di Fukshima, warga Indonesia yang ada di sana panik, gimana gak panik coba, setelah efek gempa dan tsunami yang dahsyat itu, sekarang semua warga di Jepang tuh lagi worried banget sama efek radiasi yang timbul dari ledakan nuklir di Fukushima. Yah… termasuk sepupu saya di sana, Usie. Dia tinggal bareng suaminya dan anaknya Yuki yang usianya masih 11 bulan , tapi berhubung kondisi di sana tidak memungkinkan untuk anak2 dikarenakan adanya bahaya radiasi ,akhirnya Yuki yang lucu ituh diboyonglah ke Bandung untuk diditipin di neneknya, dan orang tuanya balik lagi ke negeri Sakura itu karena urusan kerja.

Nah, kemaren, sempet ketemu sama anak yang lucu ini.

hehe yang bikin lucu, dia belum terbiasa diajak ngobrol Bahasa Indonesia sama Sunda, secara dia sehari di sana kebiasaan denger percakapan bahasa Nippon kali yah, jadi bengong sendiri dan kadang nangis jerit2, heu.  Bersyukurlah ada salah satu paman yang bisa Bahasa Jepang, ya walaupun dia belum bisa bicara tapi nampaknya dia ngerti apa yang dibicarain sama om aku. Dia menjawab pake bahsa isyarat gitu heu, gak jelas deh. semacam… da… da… da… da… persis seperti apa yang dicitrakan oleh 2 balita kembar di bawah ini.

Nah, dari sini aku jadi penasaran, mungkinkah balita bisa membedakan bahasa di umur segitu?

hehe, kebetulan nemu artikel ini tentang Prosodi, apa itu Prosodi?

Yuk kita lihat dulu video inih

ABC News sempat menyatakan, kedua bayi itu berbicara dalam ‘bahasa rahasia anak kembar’. Namun, benarkah si kembar menciptakan bahasa rahasianya sendiri? Ahli bahasa menyatakan tidak. Kebanyakan bayi kembar memang tampak bisa berkomunikasi dengan bahasa tingkat tinggi namun sebenarnya tidak.

Namun, balita memang memiliki banyak wawasan mempelajari cara berkomunikasi. “Kedua balita manis ini menunjukkan sesuatu hal berlebihan,” kata kepala Language Acquisition Research Center Hunter College Virginia Valian di New York. Menurutnya, reduplikasi ocehan semacam itu sangatlah umum meski tak semua anak melakukannya seekstrim itu, lanjutnya.

Si kembar tak menggunakan bahasa rahasia untuk menyampaikan informasi. “Mereka hanya mengatakan ‘da da da’ satu sama lain,” ujarnya. Selian itu, mereka meniru percakapan rinci, dan memiliki struktur percakapan detil. “Mereka tak pernah mengganggu satu sama lain dan jarang tumpang tindih saat berbicara. Mereka saling menatap. Bahkan gerak geriknya selaras,” paparnya.

Hal paling menarik adalah, si kembar terdengar seolah sedang berbicara, terlebih dengan intonasi, irama, dan tekanan yang digunakan orang dewasa. Aspek-aspek berbicara ini disebut prosodi, dan mereka mevariasi dari satu bahasa ke lainnya. Bayi mulai belajar prosodi sejak berada dalam kandungan ibu.

“Studi menunjukkan, bahkan bayi usia 24 jam bisa membedakan prosodi yang berbeda dengannya,” papar Valian lagi.

Misalnya, bayi yang lahir di lingkungan berbahasa Inggris dapat membedakan bahasa Inggris dan Perancis, “Karena bayi melakukan banyak analisis pola bahasa dalam rahim”.

Kebanyakan anak belajar ekspresi diri melalui prosodi asli orang tuanya sejak usia 10 bulan. Untuk balita di YouTube, semangat untuk mengobril mereka sangat menonjol. “Mereka akan segera mulai bisa berbicara,” ujar Valian.

“Saya ingin orang tuanya terus merekamnya, karena akan sangat menarik melihat mereka mulai menggantikan ocehan menjadi kata-kata yang sebenarnya,” tuturnya.

Sumber: Terselubung

 

Hehe, Subhanallah ya, semenjak dari rahim bayi sudah banyak melakukan analisis pola bahasa. Walaupun belum bisa fasih mengucapkan kata demi katanya namun setiap Bayi mampu melakukan beberapa aspek Prosodi tadi yang dipelajarinya secara alami.

Dan ternyata memang pada usia balita, mereka sudah bisa membedakan Bahasa, layaknya Yuki dia sudah bisa membedakan mana Bahasa Jepang dan Bahasa Indonesia:mrgreen:

<

14 Tanggapan to “Mengenal Prosodi”

  1. Alam April 8, 2011 pada 4:51 pm #

    kasian ya penduduk jepang, gempa + tsunami + radiasi nuklir + kemarin malah gempa lagi.. semoga keluarga desita di jepang sono baik-baik aja..
    Eh lucunya si yuki, tapi sepertinya ane juga gak kalah lucu kok:mrgreen:

    • Alam April 8, 2011 pada 4:53 pm #

      oh iya.. baru tahu ane yang namanya prosodi itu, hehe..

      • Desita Hanafiah April 8, 2011 pada 5:02 pm #

        Amin….
        halah heheh lucunya dua puluh tahun yang lalu yah,
        hehe sama gan, saya juga baru taw..

  2. dieka April 8, 2011 pada 6:31 pm #

    jadi inget filmnya baby jenius😀

    • Desita Hanafiah April 9, 2011 pada 5:12 am #

      :mrgreen: hehehe, emang rame ya?

  3. Asop April 9, 2011 pada 7:07 am #

    Wiiiiii itu suami Usie orang Jepang?😀
    Anaknya jepang banget….😳

    Itu video dua anak kecilnya kayak bener2 lagi ngobrol ya…😳

    • Desita Hanafiah April 9, 2011 pada 12:21 pm #

      Bukan Kang hehhe, orang Bengkulu, mungkin karena usie nya juga sipit yah jadi Yukinya mirip orang Jepang.

      Mengenai videonyah, emang hihihi mereka memang ngobrol tentunya dengan bahasa mereka.

      • Asop April 9, 2011 pada 1:19 pm #

        IYa lho, kayak anak Jepang aja…😀

        …tapi masa’ mereka udah ngerti sih? Saya rasa itu hanya gibberish biasa…😕

  4. hahn April 9, 2011 pada 10:46 am #

    wah pideo yang menghebohkan itu yah? kereeenn
    baru tau itu prosodi, kirain prosidi😀

    • Desita Hanafiah April 9, 2011 pada 12:22 pm #

      iyah mastah, halah Prosidi mamang tukang cendol deket kampus tea ya.

  5. Goda-Gado April 13, 2011 pada 1:33 pm #

    weleh2.. kok ya ada aja yg neliti kayak gitu ..🙂
    subahanallah datas segala ciptaan-Nya

    • Desita Hanafiah April 13, 2011 pada 2:19 pm #

      Heheh, sellau ada saja kaka, agar kita tahu semua😀, semua dibalik fakta yang tersembunyi.
      Subhanallah😀

      • Goda-Gado April 18, 2011 pada 2:28 pm #

        kok kurang kerjaan gitu to? hehehee
        nggak ding, bercanda..
        subhanallah atas segala cipataan Allah yg tak lepas dr rahasia di balik rahasia

  6. Ahmad Maret 30, 2013 pada 10:34 pm #

    Membahas tentang bahasa, tapi menulis “kemarin” menjadi “kemaren”, sempat menjadi “sempet” sangat menyebalkan, seperti dalam kalimat ini: “Nah, kemaren, sempet ketemu sama anak yang lucu ini.” Merusak bahasa Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: