Surat Untuk The Lone Ranger

22 Jan

Sebut saja Ulung Sj (Soekarno Junior), lelaki bujang berusia 28 tahun, asli suku Betawi, berjenggot tipis dan bertato di lengan sebelah kanannya, di kaki sebelah kiri dan punggung belakang. Seorang aktifis kemanusiaan dan sang penikmat alam. Dan tentunya seorang petualang yang dahsyat dalam mengarungi pahit getirnya kehidupan yang singgah dalam dirinya. Saya pribadi mendeklarasikan dia menjadi The  Lone Ranger , meniru panggilan Ikal pada Arai hehehehehe…..

Ulung kecil hidup dalam lingkungan keluarga yang tak harmonis, berpisah dari ibunya dan memilih tinggal bersama ayah dan ibu barunya bukanlah hal yang mudah untuk si kecil Ulung. Keluarga barunya rupanya tak bisa membuat Ulung kecil betah di rumah dan Ia pun memilih hidup jalanan, menjadi anak jalanan sekaligus menjadi preman sekolah, badung…badung… sekali Ulung ini  ( Ibunya sudah pasti mengusap dada…). Hampir setiap hari wajahnya lebam menyisakan akhir dari perkelahian dengan teman sebayanya. Hingga menjelang remaja, setiap delik kehidupan menghampirinya,dia tumbuh menjadi pribadi yang keras. Sempat singgah dalam dunia hitam narkoba dan sempat satu kali tinggal di balik jeruji besi dengan alasan menusuk orang yang hendak menyakiti sahabatnya, hmmm….suatu niat baik sang  remaja yang tak boleh dicontoh.

Sehari tinggal di rumah enam hari dia berada di jalanan, entah bagaimana pola pikirnya , tak terbayangkan  kondisi psikologis ulung saat itu dan bagaimana bisa pada usia segitu dia memilih survive di luar. Luar biasa.

Ada suatu kejadian lucu sekaligus bikin kesel, pernah suatu ketika saat dia lulus SMA dan disuruh oleh ibunya untuk masuk militer, Ulung dan ibunya berselisih paham mengenai masalah ini, ulung menolak permintaan ibunya itu, ibunya heran dan bertanya kenapa Ulung bersikukuh menolak, hingga tibalah waktunya ulung menyingsingkan lengan bajunya dan dengan bangga dia berkata

“ Inilah mama…tato saya yang bagus ini alasan saya gak masuk militer”. Gubraggg…alamak…ibunya kaget setengah mati hingga akhirnya ibunya pingsan.

Seiring berjalannya waktu dia mulai melanjutkan pencarian jati dirinya kembali dan kali ini rupanya dia menengok dunia teater , beralih ke hal-hal positif sebelum akhirnya  bergabung dalam suatu organisasi pecinta alam sekaligus relawan rescue untuk penanggulangan bencana alam.

Naik Gunung sana, turun gunung sini,  Puncak Mahameru pun ia panjati. begitulah jejak sang Petualang Ulung ini. Merasa tak bersahabat dengan realita hidup,  Ulung merasa nyaman berteman dengan alam, seolah selalu memeluknya dengan hangat alam pun menjadi curahan segala beban yang dipikulnya.

Bukan hanya gunung yang Ulung jelajahi tapi pulau di Indonesia pun dia arungi, ya selain karena penikmat alam alasan pekerjaan sebagai aktifis kemanusiaan pula  yang membawa Ulung hingga menjelajahi bumi Indonesia. Mulai dari sumatera Barat di ujung timur hingga kalimantan di ujung barat Indonesia.

Dalam waktu kurang dari 1 bulan saja dia mendatangi beberapa tempat untuk misi kemanusiaan , terakhir dia baru pulang dari Padang memenuhi panggilan jiwanya di ranah Minang yang tengah berduka digoncang gempa. Setelah sebelumnya Ulung baru menyelesaikan misinya di Bandung Selatan.

Sungguh manusia langka yang pernah saya temui  sepanjang hidup, tak salah saya memberi dia gelar a Lone Ranger…. satu kisah dari berjuta-juta kisah pemuda baik hati  dan selalu menbarkan cinta bagi sesama di Indonesia.

Sampai saat ini saya pun tak tahu keberadaannya, semoga dia dapat membaca tulisan saya ini.

*Kisah ini saya share sebagai tributte saya pada dia yang namanya tak boleh disebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: