Bagaimana menanamkan rasa cinta Matematka terhadap Anak?

10 Des

Pernahkah Anda sebagai orang tua merasa kesulitan mengajarkan matematika kepada putra/putri anda? Mungkin Anda yakin sudah mengajarkan matematika kepada putra/putri anda dengan benar, tetapi mengapa nilai mereka tidak mencapai target Anda? Anda tidak sendirian dalam hal ini, banyak orang tua lain yang juga merasakan hal sama.
“Matematika itu susah” merupakan pernyataan klasik. Bisa jadi sebagian besar putra/putri Anda membenarkan kalimat tersebut. Apalagi mereka yang tidak menyukai matematika pasti beranggapan bahwa ilmu pasti ini rumit, njelimet, membingungkan, dan bikin pusing saja. Akhirnya mereka pun jadi malas belajar matematika.
Ada hal penting yang harus dipahami dan disadari oleh orang tua terhadap putra/putrinya, yaitu: tidak semua putra/putri anda memiliki tingkat intelektual tinggi. Kemampuan setiap anak menangkap materi pelajaran yang disampaikan oleh guru berbeda-beda, ada yang cepat dan ada yang lambat. Memaksa dan memarahi anak tidak akan membuahkan hasil, justru akan menimbulkan ketakutan dan kecemasan bagi anak. Anggapan orang tua bahwa menghafal adalah cara cepat agar anak bisa/pandai matematika juga tidak seratus persen benar. Anak akan cenderung menganggap pelajaran matematika adalah pelajaran hafalan dan hal ini merupakan salah satu penyebab kepanikan/kecemasan anak apabila suatu ketika dia kesulitan dalam menghafal.

Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan agar anak kita menyukai matematika , saya dapatkan info ini dari   berikut tips nya :

Kunjungi sekolah anak.

Usahakan bertemu langsung dengan guru matematika di kelas dan cari informasi apakah anak anda cukup aktif dalam pelajaran matematika di kelas. Apabila ada masalah, fokuskan bersama dengan guru dalam menentukan strategi mengajar dirumah agar kesulitan anak dapat terpecahkan.

Jangan menetapkan target belajar yang terlalu rendah.

Tantanglah anak anda untuk menguasai matematika lebih baik. Rangsang minat anak anda dalam bidang matematika. Salah satu caranya adalah menetapkan target yang cukup tinggi. Contoh, begitu lulus SLTP, misalnya, anak diharuskan paham konsep aljabar dan geometri.

Tunjukkan matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Kurangnya minat anak dalam matematika seringkali disebabkan anak merasa tidak ada koneksi antara matematikan yang dipelajari dengan kehidupan nyata. Pandangan itu harus diubah. Cobalah tunjukkan betapa matematika ada di mana-mana. Dari statistik nilai pertandingan sepakbola di Liga Inggris, kadar vitamin dalam susu, jumlah bensin yang harus di isi dalam perjalanan Jakarta Bandung, dll.

Tumbuhkan minat anak pada teknologi.

Rangsang minat anak agar lebih menggemari teknologi dengan menyenangi kalkulator dan komputer.

Mainkan Permainan Yang Menumbuhkan Kemampuan Mengambil Keputusan dan Logika.

Bermain adalah dunia anak-anak. Saat ini, baik permainan tradisional maupun modern banyak yang melatih kemampuan anak dalam mengambil keputusan dan strategi serta logika. Orangtua dan anak dapat memilih mulai dari permainan tradisional seperti lompat tali, kartu, hingga mainan modern seperti game di komputer, balok, dan puzzle.

Tunjukkan bahwa anda juga menggemari matematika.Apabila orangtua sangat menyenangi matematika maka besar kemungkinan anak juga akan mengikutinya. Karenanya jangan tunjukkan di depan anak-anak bahwa anda membenci hitung-hitungan atau berkata bahwa matematika itu susah. Perkataan dan tindakan anda menentukan masa depan anak.

Semoga Berhasil , majulah terus Indonesia!

<a name=”fb_share” type=”button_count” href=”http://www.facebook.com/sharer.php”>Bagikan</a><script src=”http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share&#8221; type=”text/javascript”></script>

9 Tanggapan to “Bagaimana menanamkan rasa cinta Matematka terhadap Anak?”

  1. dieka Desember 10, 2009 pada 7:11 am #

    hehe… waahh des… klo aq gmana? aq ampe skrg.. konsep alajabar aja g ngerti deh.. aduh… payah nih.. hehehehe

    • Desita Hanafiah Desember 11, 2009 pada 4:12 am #

      itu mah , gimana ya?
      Dc saranin kamu balik lagi ke elas satu SD dik…
      wkwkwk
      piss ah…

      • dieka Desember 13, 2009 pada 9:02 am #

        wahh… *boljug tuh des… blik k klas 1 SD… tp dirimu juga ikut ya des.. wkwkwkwk

    • Desita Hanafiah Desember 13, 2009 pada 10:23 am #

      ye…enak ajah, Only for Dikdik kusdinar

  2. acepbaduy Desember 10, 2009 pada 12:53 pm #

    Ada satu yang kurang, sediakan plastik kalo- kalo ntar anaknya mau muntah pas belajar perkalian…:D am I rights?

    Btw, Nice being here, nice see you wrote something. Akhirnya, ada juga orang satu bangsa….Hehehehehhe

    • Desita Hanafiah Desember 11, 2009 pada 4:11 am #

      hahaha, yuPz btul, wah itu mah ayaknya pengalaman kang acep nya,

      Okay , thanks brotha. Itu juga dapet inspirasi dari Kang Acep, semangat !!!
      heuheu

  3. Nice Guy Desember 15, 2009 pada 8:21 am #

    Mungkin anak2’nya harus dihipnotis sama romy rafael biar suka matematika ya…? ^_^. .. atau mungkin tidak terlalu memaksakan krna potensi tiap orang dominannya beda2 bisa2 nantinya malah stress..yang penting otak kanan dan kirinya kepake juga hehe.. tapi ajari saja sewajarnya dan kasih kasus2 yang dapat memancing logika anak itu sendiri untuk meningkatkan daya pikirnya … “itulah tanggapan seorang amatiran seperti saya”

  4. Nice Guy Desember 15, 2009 pada 8:26 am #

    Oya… jangan lupa rajin2 olahraga biar sebagian besar otaknya pada terlatih dan aktip,,,, ^_^

    • Desita Hanafiah Desember 17, 2009 pada 6:40 am #

      betul banget Kang Jani, karena olahraga juga sangat membantu dalam proses pemasokan oksigen ke dalam otak, sehingga kalau oksigen yang masuk cukup maka otak kita pun akan bekerja dengan baik lagi,
      Makasih tambahannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: